Bahasa Jawa logat Doudoan (Bahasa Doudoan — Hehehe, perangkumnya maksa banget…
) pada dasarnya sama dengan bahasa Jawa Ngaka pada umumnya. Namun logat bahasa ini memiliki keunikan tersendiri di banding logat-logat bahasa Jawa yang lain. Antara lain:
- Memiliki purusa yang agak berbeda dari bahasa Jawa umumnya. Pratama purusa diwakili oleh “àku” (tunggal) dan “ndhêwêk” (jamak); madyama purusa diwakili oleh “kowé”, “kòèn”, “sàmpéyàn”; dan utama purusa diwakili oleh “dhêké” (tunggal, untuk jamak biasanya langsung disebut personalnya)
- Mempunyai pergeseran bunyi dari bahasa Jawa Ngaka aslinya, yakni:
- Suku kata berakhiran -ìh berubah menjadi -êh, dan suku kata berakhiran -ùh menjadi -òh. Contoh: lìh –> lêh, sugìh –> sugêh, urùh –> uròh, dll.
- Suku kata berakhiran vokal i dan u yang dipatên (selain h) beberapa tetap dibaca i dan u jejeg. (perangkum tidak bisa menemukan padanannya bahasa Jawa aslinya, namun mungkin bisa diganti dengan iy dan uw) Contoh: cilìk –> cilik (ciliyk), mènyìk –> mènyik (mènyiyk), àlùs –> àlus (àluws), dll.
- Dalam satu kata kadang memiliki banyak variasi pengucapan (dasanama?) . Contoh:
- cèkèl –> cèkèl, cèkèt, jèkèt, jèkèl, gècèl, gècèt, gèjèg, gucèl, gucèt, gujèg
- jupùk –> jupùk, jipìk, jupùt, jipìt, jumpùt
Nah, unik bukan bahasa Doudoan?
Dalam pengucapannya, bahasa Doudoan mempunyai konversi huruf sama dengan bahasa Jawa pada umumnya, namun dengan sedikit pembaharuan (mencegah salah pengucapan karena kasus nomer 2.2), yakni:
- Untuk konsonan, tetap ditulis seperti biasa untuk yang monoftong, sedangkan untuk diftong ditulis dengan garis penghubung bawah. Sehingga menjadi: ng, ny, dh, th, kh, sy
- Untuk vokal (kecuali e), jika jejeg tidak diberi tanda apa-apa, sedangkan jika miring diberi tanda grave (à, ì, ù, ò)
- Untuk vokal e, untuk e yang dibaca asli jika jejeg diberi tanda acute (é), jika miring diberi tanda circle (ê). Sedangkan untuk e yang dibaca eu, diberi tanda grave (è).
0 Tanggapan ke “Bahasa Doudoan”